By : Khusnul Khotimah
Sore ini Zahra baru saja pulang madrasah bersama teman-temannya. Ketika sudah memasuki area pondok, ia tidak sengaja berpapasan dengan ustadzah Afi yang merupakan keamanan pondok.
Setibanya dikamar, Zahra langsung pergi ke padasan berwudhu untuk melaksanakan sholat berjamaah. Saat ia sedang nderes Al-Quran tiba-tiba ada seorang santriwati yang menghampirinya.
“Mba Zahra, dipanggil ustadzah Afi, disuruh ke kamarnya sekarang juga.” “Hah, sekarang ?” tanya Zahra. Santriwati itu hanya mengangguk.
Selesai membaca Al-Quran Zahra pun pergi menuju kamar ustadzah Afi. Tanpa berbasa-basi ustadzah Afi langsung menyampaikan alasan ia memanggil Zahra.
“Zahra, ada salam dari orangtuamu kalau kamu besok sore setelah madrasah akan dijemput pulang. Jadi saya harap sore ini kamu sudah harus berkemas-kemas agar besok tinggal dibawa pulang,” jelas ustadzah Afi.
“Baik Ustadzah, terimakasih. Kalau begitu saya permisih Ustadzah. Assalamu’alaikum,” ucap Zahra sambil meninggalkan kamar pengurus.
Ditempat lain terlihat ustadz Syam yang sedang bersiap untuk berangkat mengajar, karena malam ini ia mendapat jadwal mengajar sholat jenazah di masjid Zarkasy yang letaknya dipertengahan Asrama Putra dan Putri. Saat itu ustadz Syam berangkat bersama sahabatnya yaitu ustadz Ali. Ketika sudah mau sampai di masjid ustadz Syam teringat sesuatu, ternyata ada kitab yang tertinggal sehingga ia harus kembali ke Asramanya.
“Sebentar Ustadz, sepertinya kitab saya ada yang tertinggal. Saya akan kembali ke kamar untuk mengambilnya, Ustadz duluan saja tidak apa-apa,” ucap ustadz Syam.
“Kalau begitu, saya duluan, Ustadz,“ ucap ustadz Ali.
Dikamar Zahra tengah bersiap untuk berangkat ngaji. “Zah ayok berangkat, kamu udah siap belum ?. Udah dilaser tuh sama keamanan, kalau lama bisa ditakzir nanti kita,” ucap Aisyah, takut.
“Iya bentar,” jawab Zahra. Ia sedang sibuk mencari kitab yang akan ia bawa. “Diih… lo mau ngaji apa mau baca novel ?” tanya Aisyah, heran.
“Ngaji lah, kamu gak liat nih Aku bawa kitab. Yook jalan, ntar kita telat lagi” ucap Zahra sambil menarik Aisyah.
Saat sedang berjalan, Aisyah terus melirik Santri yang sedang melintas dan tak sengaja ia melihat ustadz Syam yang sedang berjalan kearah mereka.
“Zah, ini gua gak salah liat kan” ucap Aisyah sambil mengucek matanya. “Liat apa lagi sih Aish,” ucap Zahra, heran.
“Gua liat ustadz Syam jalan kearah kita,” ucap Aisyah.
“Hah, serius ?” tanya Zahra. Ia pun langsung menoleh kearah ustadz Syam yang sebentar lagi akan menyebrang.
“Aish, jangan cepat-cepat jalannya. Nanti kalau ustadz Syam sudah deket baru kita cepet-cepet,” bisik Zahra. Mereka pun memperlambat langkah mereka hingga bertemu dengan ustadz Syam.
“Assalamualaikum, Ustadz,” sapa Zahra sambil tersenyum. “Wa’alaikumsalam,” jawab ustad Syam yang juga tersenyum kearah Zahra. “Masyaallah, nikmat tuhan mana yang engkau dustakan,” gumam Zahra. “Diih, lebay,” sahut Aisyah.
“Biarin, sewot aja loh. Aku mau kelapangan ajalah, males sama kamu,” ucap Zahra, ngambek.
“Zah, lo mau ngapain kelapangan, bentar lagi Ustadzah masuk. Tungguin gua woy” teriak Aisyah sambil mengejar Zahra yang sudah jalan lebih dahulu meninggalkan nya.
“Astagfirullah Zah, gua kira lo kesini mau hafalan, ternyata baca novel. Pake diumpetin di dalam kitab segalak.” ucap Aisyah , heran.
“Diam lo ahh. Ngoceh aja
dari tadi, pusing tau dengernya,” ucap Zahra, kesal. “Yaelahh, gitu aja ngegas,
kan gua cuman nanya doang Zah. Lagian lo ngapain baca
novel disini, gak takut apa lo ketahuan ustadzah?”
tanya Aisyah.
“Udah, dari pada lo mikirin Aku mending kamu hafalan aja sana, kamu belum hafalkan ?” tanya Zahra, kesal.
“Bisa ya dia baca novel ditempat kayak gini, orang lagi pada hafalan dia malah asik baca novel, ketahuan Ustadzah pasti disita tuh novelnya” ucap Aisyah lirih.
“Ngomong apaan lo, lo kira Aku gak denger yaa. Aku juga punya kuping kalik,” sindir Zahra.
“Asal lo tau ya, membaca itu gak liat tempat dimana pun kita berada dan kita juga harus rajin membaca, biar kita tuh punya banyak kosa kata dan wawasan yang luas. Meskipun kita belajar memperdalam kitab, kita juga harus belajar yang lain biar kita yang didalam pondok bisa tau perkembangan diluar sana. Lu aja gak tau kan diluar sana perkembangannya kayak apa. Meski kita dikurung didalam pondok, kita juga harus cari cara biar tau perkembangan diluar, dengan baca buku atau searching google,” jelas Zahra.
Zahra tau kalau temannya itu sangat suka membaca kitab, namun Aisyah tidak begitu suka membaca buku. Berbeda dengan Zahra yang lebih suka membaca buku dan menulis. Meski begitu, Zahra juga termasuk mahir dalam membaca kitab, tetapi ia tidak begitu sering membaca kitab seperti Aisyah, yang setiap saat dan dimana saja selalu membawa kitab untuk dibaca. Zahra hanya akan membaca kitab ketika madrasah. Saat madrasah pun Zahra tetap memanfaatkan waktunya untuk membaca buku ketika ustadzah nya tidak masuk ke kelas. Zahra juga memiliki berbagai macam cara agar bisa membawa buku bacaan nya, salah satu caranya yaitu menyelipkan bukunya didalam kitab.
Setelah selesai mengaji Zahra dan Aisyah pun pulang. Dikamar Zahra tengah asyik membaca, sedangkan teman kamarnya sudah terlelap. Aisyah yang baru saja datang dari kamar mandi langsung duduk disebelah Zahra.
“Zah ceritain novel yang kemarin Kamu baca, yang tentang ustadz apa Zah judul nya?” tanya Aisyah.
“Dinikahi Ustadz Tampan, judul nya,” jawab Zahra.
“Nah, iya itu. Ceritain dong Zah isi novel nya, Aku penasaran, kayaknya bagus deh ceritanya,” ucap Aisyah, manja.
“Mending Kamu baca sendiri deh, kalo Kamu baca sendiri akan lebih seru. Biar Kamu juga jadi suka membaca, gak hanya kitab yang lo baca. Baca buku itu asyik loh, semakin sering baca buku, Kamu akan banyak imajinasi juga,” jelas Zahra.
“Oohhh.. pantas saja teman ku ini suka menghayal,” sindir Aisyah.
“Heheheeee,” Zahra pun tersenyum ketika disindir oleh Aisyah. karena Aisyah tau betul kalo Zahra sering menghayal memikirkan ustadz Syam, dimana khayalannya itu Zahra tulis menjadi sebuah cerpen.
“Tapi Kamu gak capek Zah kalau baca buku terus ?” tanya Aisyah.
“Capek gimana ?, kan udah terbiasa, bahkan sudah menjadi hobi Aku. Lagian sama halnya kayak Kamu,” ucap Zahra. Aisyah pun ternganga mendengar ucapan Zahra. ‘Kenapa Aku ?’ batin Aisyah.
“Kamu capek gak baca kitab ?” tanya Zahra balik. Aisyah hanya menggeleng- gelengkan kepalanya.
“Nah, kan. Apapun yang sering kita lakukan itu akan menjadi sebuah kebiasaan. Sama halnya kalau Kamu terbiasa menulis dan membaca. Kegiatan itu sering Kamu lakukan dalam kehidupan sehari-harimu, nanti lama-kelamaan akan menjadi kebiasaanmu, jadi Kamu gak akan merasa bosan. Mungkin awal-awal akan merasa bosan, tapi kalau sudah terbiasa, itu akan menjadi hobi Kamu,” jelas Zahra sambil menatap Aisyah dengan serius.
Mendengar penjelasan Zahra, Aisyah pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
“Nih bukunya, klo mau tau ceritanya baca sendiri ya. Belajar dari sekarang biar terbiasa. Hihiii” ucap Zahra sambil menyodorkan novel kepada Aisyah. Semenjak itu Aisyah mulai membaca novel yang diberikan Zahra, karena masih awal-awal membaca pasti ada rasa bosan yang Aisyah rasakan sehingga tidak berlangsung lama Ia ketiduran, dengan posisi buku menutupi wajahnya.
“Astagfirullah, belum apa-apa udah tidur” ucap Zahra,
tersenyum.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. Terlihat para ustadzah dan keamanan sedang berkeliling untuk mengecek santrinya yang belum juga berangkat ke Gedung Pendidikan.
“Diberi tahukan kepada seluruh Siswa Siswi yang masih berada dipondok pesantren, diharapkan untuk segera berangkat ke Gedung Pendidikan sekarang juga, karena gerbang akan segera ditutup”
Terdengar suara peringatan dari toa yang membuat para santriwati tergesa-gesa dan berdesak-desakan untuk keluar dari pondok.
Hari ini ustadz Syam ada jam ngajar dikelas Zahra, sehingga Zahra tidak mau terlambat kesekolah. Selesai pembelajaran, seperti biasa ustadz Syam meminta Zahra untuk membawakan buku tugas keruangannya. Diruangan ustadz Syam gelisah memikirkan rencana lamarannya.
“Aku harus menghubungi kyai,” gumamnya.
Zahra yang sedang berjalan menuju ruangan ustadz Syam melihat pintu ruangan tidak terkunci, sehingga tanpa ragu Zahra masuk keruangan ustadz Syam..
“Assalamualaikum ustadz” ucap Zahra yang datang membawa buku yang disuruh oleh ustadz Syam.
“Iya sayang” karena sedang melamun, ustadz Syam pun kaget dan tak sengaja memanggil Zahra dengan sebutan sayang. Zahra yang mendengar kaget dan salah tingkah.
“Astagfirullah, mohon maaf, saya tadi habis menelfon calon ayah mertua saya,” ucap ustadz Syam, sengaja.
Zahra pun tidak senang ketika mendengar ustadz Syam berkata seperti itu yang menandakan ustadz Syam telah memiliki tunangan.
“Letakkan saja buku nya diatas meja itu,” ucap ustadz Syam sambil menunjuk kearah meja.
“Baik ustadz,”
“Zahra habis ini mau kemana ?, bagaimana persiapan lombanya, apakah sudah mantap?” tanya ustadz syam, basa-basi.
“Saya mau ke kantor untuk bertemu ibu Ana, Ustadz. Kalau begitu saya permisi, Ustadz. Assalamualaikum,” ucap Zahra sambil menundukkan kepalanya. Dengan raut wajah kesal Zahra keluar dari ruangan ustadz Syam.
“waalaikumsalam,”‘Ternyata Dia bisa marah juga’ batin Syam.
Seperti biasa, saat istirahat zahra akan menghabiskan waktunya diperpustakaan. Ketika hendak masuk Zahra melihat dua Siswi yang tengah membujuk penjaga perpus untuk meminjam buku.
Ternyata keamanan pondok telah melarang penjaga perpus untuk meminjamkan Santriwati buku untuk dibawa pulang ke pondok. Zahra yang mengetahui hal itu bersedih dan berinisiatif mencari cara agar Santriwati diperbolehkan membaca buku bacaan dipondok.
Kemudian Zahra pergi menemui ibu Ana yang berada dikantor, Ia hendak meminta bantuan kepada gurunya itu. “Assalamualaikum Bu,” sapa Zahra. “Walaikumsalam, ada apa Zahra ?”
“Jadi begini Bu….” Zahra mengatakan semua yang menjadi unek-uneknya kepada ibu Ana, Ia juga meminta bu Ana agar membantunya berbicara kepada keamanan.
“Ohh, begitu ya. Masyaallah Zahra, mulia sekali keinginan mu. Ibu bangga sekali sama Kamu,” ucap bu Ana sambil memuji kebaikan Zahra.
“Jadi bagaimana Bu, Ibu mau bantu Zahra kan Bu ?” tanya Zahra dengan penuh harapan ibu Ana mau membantunya.
“Hemmm, baik. Ibu akan bantu Kamu, tapi dengan syarat Kamu harus bisa menang dalam kompetisi besok ya,” ucap Ibu Ana. Zahra yang antusias pun dengan yakin menyetujui persyaratan ibu Ana.
“Baik, bu. Zahra yakin bisa menjuarai lomba itu,” jawab Zahra tanpa rasa ragu.
Pukul 16.00,
Azzam sudah tiba didepan pondok untuk menjemput adiknya yang baru saja pulang
Madrasah. Setibanya Zahra dirumah, ia heran karena rumahnya sangat ramai. Abah
dan Ummi nya pun menyambutnya dengan hangat.
“Eh, anak Abah sudah pulang,” ucap kyai Kholis. Zahra pun langsung berlari memeluk Abah dan Ummi nya. “Sini sayang, duduk dulu. Ada yang mau Abah sampaikan,” ucap Kyai.
“Anak Abah yang cantik, nanti akan ada seorang pria mapan datang untuk melamar mu sayang. Sekarang Zahra kan sudah besar, Abah harap kamu tidak menolak ya,” ucap Kyai Kholis sambil mengelus tangan Zahra.
“Abah, tapikan Zahra masih muda, pengin kuliah dan pengin jadi penulis terkenal. Masa Abah tega mau jodohin Zahra secepat ini, cita-cita Zahra nanti gimana Abah. Lagian siapa sih laki-laki itu, pasti laki-laki hidung belang yang mau nikahin anak ABG kayak Zahra. Gak tau apa dia kalau Aku masih pengin kuliah,” gumam Zahra, kesal. Kyai Kholis ternganga mendengar ucapan anaknya, karena kyai Kholis tidak yakin jika Zahra akan menolak laki-laki itu. Apalagi laki-laki itu adalah idolanya yang selalu ia ceritakan kepada Abahnya setiap libur pondok.
“Yasudah, Abah tidak akan memaksa Kamu untuk menikah. Nanti malam kalau pria itu datang melamar, Kamu boleh menolaknya,” ucap Kyai.
Tibalah waktu lamaran. Saat peria itu masuk kerumah, Zahra pun terkejut melihatnya, jantung nya berdebar, mulutnya terbungkam dan tangannya gemetar. Ingin rasanya ia pingsan ditempat. Ia sangat bahagia sampai ingin menangis melihatnya.
“Silahkan ustadz Syam, sampaikan apa tujuan mu datang kesini ?” tanya kyai Kholis saat melihat ustadz Syam gelisah.
“Baik Kyai. Mohon maaf sebelumnya kyai, maksud dan tujuan saya datang kesini untuk melamar putri Kyai yang bernama Aulia Zahra Khoirunnisa. Jika Aulia menerima saya, insyaallah saya siap menunggunya hingga lulus sekolah dan langsung menikahinya, Kyai,” ucap ustadz Syam, gerogi.
Mendengar ucapan ustadz Syam, hati Zahra meleleh. Rasanya ia ingin jingkrak- jingkrak kegirangan, karena ia tak menyangka bahwa ternyata tunangan ustadz Syam itu adalah dia. ‘Oh, jadi calon ayah mertuanya itu, Abah,’ batin Zahra.
“Terimkasih atas kedatangan ustadz Syam dengan niat
yang baik ingin melamar
anak saya. Karena yang akan
menjalani kehidupan kedepannya adalah anak saya. Maka, jawabannya saya serahkan
kepada Zahra, karena saya tidak bisa memaksanya,” ucap kyai Kholis.
“Zahra menerima lamaran ustadz Syam atau mau menolaknya, sayang ?” ledek kyai Kholis.
Zahra pun salah tingkah dibuat oleh Abah nya, sehingga ia menjawab “Mau, Abah” sambil menganggukkan kepalanya. Sontak semua yang ada diruangan itu mengucap “Alhamdulillah” dengan serempak. Ustadz Syam pun langsung mengusap wajahnya kemudian bersujud syukur karena Zahra menerima lamarannya.
Setelah ustadz Syam dan kyai Anshor pulang, Zahra terdiam diruang tamu. “kamu kenapa sayang, kok cemberut gitu” tanya Abah.
“Jadi begini bah, dipondok Santriwati dilarang membaca buku selain kitab dan buku pelajaran. Sedangkan banyak santriwati yang gemar membaca buku bacaan lain seperti majalah, cerpen, novel, bahkan mereka juga suka menulis cerita mereka disebuah buku seperti cerita cinta dan cerita lainnya. Tapi dipondok dilarang sama keamanan, bah. Kalau kami ketahuan membaca buku bacaan pasti akan disita dan akan dikenai takziran. Buku-buku yang diambil pun akan dibakar dihadapan para Santriwati, Bah.” jelas Zahra.
“Tapi dipondok itu tidak setiap saat ada kegiatan. Jadi Zahra berinisiatif ingin menjadikan jam kosong itu menjadi waktu yang bermanfaat untuk para Santriwati agar bisa membaca buku, Bah” lanjut Zahra.
“Apa itu salah, Bah ?“ tanya zahra lagi.
“Menurut Abah itu bagus. Ibnu Qayyim pernah mengatakan bahwa membuang-buang waktu itu lebih buruk daripada kematian, karena kematian hanya memisahkanmu dari kehidupan dunia, sementara membuang-buang waktu memisahkanmu dari Allah,” jelas Abah.
Paginya kyai
Kholis mengajak Zahra pergi ke toko buku untuk membeli beberapa buku untuk zahra,
karena Kyai tau bahwa purtinya
sangat gemar membaca buku. Kyai pun membiarkan Zahra untuk memilih
buku yang ingin dia beli.
Setelah berkeliling mencari buku-buku yang mau Ia beli, akhirnya semua sudah terkumpulkan. Ia berjalan ke kasir yang mana Abah nya telah menunggu disana.
“Abah ini buku-bukunya,” ucap Zahra sambil memperlihatkan keranjang belanjanya. “Buku sebanyak ini mau buat apa Zahra ?” tanya Kyai, heran.
“Kalo Zahra menang kompetisi tingkat nasional, Zahra mau buka lapak baca didalam pondok, bah. Agar Santriwati bisa baca semua buku-buku ini, bukunya juga bagus- bagus kan, Bah. Heheheeeee,” jawab Zahra, senang.
Ketika sudah dirumah Zahra merapikan buku itu dan meletakkannya dirak bukunya. Setelah selesai meletakkan buku-buku itu, Zahra mulai mengemasi barangnya dan berangkat kepondok.
“Abah, Ummi. Zahra berangkat kepondok dulu ya. Assalamualaikum,” pamit Zahra kepada orangtuanya.
“waalaikumsalam,” Pagi ini seluruh Siswa melaksanakan upacara bendera. Setelah selesai upacara, mereka juga berdoa bersama untuk para siswa yang akan pergi lomba.
“Zah, semangat ya. Kamu udah siap kan ?” tanya Aisyah sambil memeluk sahabatnya. “Iya Aish, doain aku ya,” ucap Zahra.
“Zahra, ayok naik ke bus,” ajak ustadz Syam. “loh, bu Ana mana Ustadz ?” tanya Zahra.
“Bu Ana sedang sakit, jadi saya diminta untuk menggantikannya menemani Kamu,” jelas Syam sambil mengedipkan sebelah matanya. Zahra yang melihat kelakuannya pun tersenyum.
Setiba ditempat lomba Zahra sangat gugup, ustadz Syam yang melihatnya, datang untuk menasehatinya. “Jangan gugup, mending istighfar saja sambil berdoa semoga diberi kelancaran oleh Allah SWT,” pinta Syam. Zahra hanya menjawab dengan senyuman, Ia masih malu dengan ustadz syam meski Ia sudah menjadi tunangan ustadz Syam.
Keluar dari ruangan lomba Zahra sangat senang,
bersamaan dengan ustadz Syam
yang datang membawakan minuman untuknya.
“Terimakasih, Ustadz,” ucap Zahra sambil meneteskan air mata saat melihat ustadz Syam.
“Kamu kenapa Zahra ?” tanya ustadz Syam yang tak tega melihat Zahra menangis.
“Zahra senang, Ustadz. Lombanya sudah selesai,” jawab Zahra. Ustadz Syam pun terharu dan ingin rasanya Ia memeluk zahra, namun mereka belum menikah jadi ustadz Syam hanya bisa menelan saliva nya.
Beberapa hari kemudian, akhirnya waktu pengumunam lomba telah tiba. Zahra bersama ibu Ana pergi ketempat perlombaan untuk mendengar pengumuman kejuaraan. Saat MC akan membaca pemenang juara pertama, jantung zahra berdebar kencang. Karena dari tadi ia menunggu namanya dipanggil, tapi tak kunjung dipanggil.
“Pemenang juara pertama adalahh…..Aulia Zahra Khoirunnisa dari Madrasah Aliyah AN-NAWAWI,”
Deg, Zahra yang mendengar pun sangat senang sambil memeluk ibu Ana. Kemudian Zahra naik keatas panggung untuk menerima hadiah. Zahra tidak menyangka ternyata hadiahnya tidak hanya piala dan sertifikat, melainkan juga mendapat sumbangan buku yang lumayan banyak. Ia pun Bahagia hingga meneteskan air mata.
Karena Zahra sudah memenangkan perlombaan, sehingga ibu Ana akan menepati janjinya untuk bicara kepada keamanan pondok. Ustadz Afi yang merupakan ketua keamanan langsung menyetujui ibu Ana, karena sebelum ibu Ana mengatakan hal itu Ia sudah diperintah oleh kyai Anshor untuk membiarkan niat baik Zahra. Karena kyai Kholis juga sudah lebih dulu mengatakan keinginan Zahra dan akhirnya mendapatkan persetujuan dari kyai Anshor.
Keesokan
harinya saat apel pagi Zahra dipanggil kedepan oleh Kepsek untuk mendapatkan
penghargaan dari sekolah atas kemenangannya. Zahra pun menyampaikan beberapa
kata.
“Assalamualaikum wr. wb. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada bapak Anwar selaku Kepala Sekolah yang telah memberikan saya kesempatan untuk berbicara didepan. Saya juga berterimakasih kepada ibu Ana yang sudah membimbing saya sehingga bisa memenangkan lomba menulis. Tanpanya mungkin saya tidak bisa apa-apa,”
“Berdirinya saya disini, akan menyampaikan kepada teman-teman semuanya, bahwasannya saya dan bu Ana akan membuka ekstra kulikuler menulis, jadi untuk teman-teman yang berminat bisa bergabung. Saya juga menyediakan kotak baca didepan kantor guru, bagi teman-teman yang suka menuliskan kisahnya atau khayalan-khayalan kalian dikertas, bisa kertas itu kalian masukkan kedalam kotak baca. Nanti saya akan membaca dan membuat nya menjadi sebuah buku agar bisa dibaca oleh teman-teman lainnya. Atau teman-teman mau langsung berikan ke saya juga tidak apa-apa, dengan senang hati saya akan menerimanya. Saya juga akan membuka lapak baca didalam pondok putri, jadi santriwati yang suka membaca dan menulis kisah kalian, tidak perlu khawatir akan disita oleh keamanan, karena ustadzah Afi telah mengizinkan kita. Sebelumnya saya berterimakasih kepada ustadz Afi. Tapi teman-teman tetap dibatasi ya, lapak baca yang akan saya buka hanya akan beroprasi ketika selesai ngaji, selain dari waktu itu lapak baca akan ditutup. Agar ngaji teman-teman tidak terganggu, jadi teman-teman bisa mengimbangi antara mengaji dengan membaca. Saya juga sudah menyediakan berbagai macam buku yang sangat bermanfaat tentunya. Mungkin hanya itu yang akan saya sampaikan. Teruslah berkarya dan temukan keahlianmu, jangan pernah takut berkarya. Wassalamualaikum wr. wb,” ucap Zahra sambil berjalan kembali kebarisan.
Siswa-siswi pun bertepuk tangan, mereka merasa senang karena zahra telah membuat mereka kembali memiliki harapan untuk berkarya. Selesai apel, banyak Siswa-siswi yang datang menghampiri Zahra untuk bergabung ke ekstra kulikuler menulis. Zahra yang melihat mereka sangat antusias pun sangat senang.
Waktu kelulusan Zahra akhirnya sudah tiba, Zahra sangat senang karena ia lulus sebagai Siswi teladan. Ustadz Syam pun tak kalah bahagia, karena ia tak sabar ingin segera menikahi zahra.
“Selamat ya Zahra,” ucap Syam sambil memberikan buket
kepada Zahra.
“Terimakasih, Ustadz,” ucap Zahra, malu-malu.
“Kamu sudah siap kan untuk menikah dengan saya ?” tanya ustadz Syam. Zahra hanya bisa mengangguk sambil tersenyum karena ia tak bisa menahan rasa malu yang bercampur dengan rasa Bahagia itu.
Akhirnya dua hari setelah kelulusan Zahra akhirnya menikah dengan ustadz Syam.

