Oleh IMMawan Ilham Pangestu
Pendidikan di era digital menawarkan berbagai peluang sekaligus tantangan. Transformasi digital yang cepat telah mengubah cara kita belajar, mengajar, dan berinteraksi dengan informasi. Meskipun teknologi memberikan akses yang lebih luas dan cepat terhadap informasi, penerapan yang kurang tepat dapat menimbulkan berbagai masalah. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi tantangan ini dan mencari solusi yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Salah satu tantangan utama dalam pendidikan di era digital adalah kesenjangan digital. Menurut data UNESCO, banyak siswa di seluruh dunia masih tidak memiliki akses yang memadai ke perangkat teknologi dan internet yang stabil. Hal ini menghambat mereka untuk memanfaatkan sepenuhnya sumber daya digital yang tersedia. Untuk mengatasi kesenjangan ini, pemerintah dan pihak terkait harus berinvestasi dalam infrastruktur teknologi dan memastikan bahwa semua siswa memiliki akses yang setara ke alat pembelajaran digital.
Selain itu, kemampuan literasi digital menjadi sangat penting. Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan untuk menilai informasi secara kritis dan etis. Dalam era informasi yang melimpah, siswa harus diajarkan untuk memilah informasi yang valid dan bermanfaat dari informasi yang menyesatkan atau tidak akurat. Penelitian yang dilakukan oleh Common Sense Media menunjukkan bahwa hanya 20% siswa yang merasa mereka diajarkan bagaimana menilai informasi secara kritis di sekolah. Oleh karena itu, kurikulum sekolah harus diperbarui untuk memasukkan pendidikan literasi digital yang komprehensif.
Selanjutnya, peran guru dalam pendidikan digital juga mengalami perubahan. Guru tidak lagi hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mandiri. Studi dari Journal of Research on Technology in Education menunjukkan bahwa pelatihan guru dalam penggunaan teknologi pendidikan meningkatkan hasil belajar siswa. Maka dari itu, investasi dalam pelatihan profesional untuk guru sangat diperlukan agar mereka dapat memanfaatkan teknologi dengan efektif dalam proses pembelajaran.
Namun, penting juga untuk diingat bahwa teknologi hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Fokus utama pendidikan harus tetap pada pengembangan potensi dan karakter siswa. Teknologi harus digunakan untuk mendukung proses pembelajaran yang bermakna, bukan sekadar menggantikan metode tradisional tanpa peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri.
Dalam kesimpulannya, pendidikan di era digital menawarkan peluang besar untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan. Namun, tantangan seperti kesenjangan digital, literasi digital, dan peran guru perlu ditangani dengan serius. Dengan strategi yang tepat, kita
dapat memanfaatkan teknologi untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan efektif.
Referensi:
UNESCO. (2021). “Global Education Monitoring Report.”
Common Sense Media. (2020). “Teaching Kids Media Smarts: An International Study.” Journal of Research on Technology in Education. (2019). “The Impact of Teacher Training on Technology Integration in the Classroom.”


